Satu Nafas, bukan Sejiwa

Entah mengapa kali ini aku menikmati angin yang berhembus
Menyentuh kulit karena lambaian-lambaiannya

Menikmati sekedar menikmati
Sejuknya angin yang datang berharap hati pun dapat di sejukkan
meredam gejolak persoalan-persoalan yang tak dapat di mengerti

Aku menyadari bahwa ternyata kita satu nafas
Terhubung dengan udara yang sama
Aku menyadari bahwa kita berada di pijakkan yang sama
Tapi mengapa jiwa kita masih terbilang sulit untuk di satukan?

Aku mengetahui kamu, dan kamu mengetahui aku
Tak ada rahasia diantara kita
Tapi mengapa kita masih sulit untuk saling mengerti?

Kalimat bahwa kamu bahagia hanyalah sekedar kebohongan
Kita disini yang saling menyakiti adalah kebenarannya

Kebohongan yang bertumpuk
Persoalan yang tak pernah terselesaikan
Adalah kenyataannya

Kamu yang berjalan menjauh, dan aku yang terdiam bisu melihatmu melangkah pergi
Siapa yang harus di salahkan apabila perpisahan telah terjadi di depan mata?
Kita yang enggan berucap bahwa kita masih saling membutuhkan
Hanya ego yang kita tinggalkan, menjadi jejak bahwa kita masih enggan mengakui

Satu nafas,
Udara sama yang kita hirup
Namun mengapa untuk memahami kita masih terlalu sulit?

Satu pijakan,
Pijakan yang sama
Namun mengapa untuk jujur masih sangat sulit?

Satu nafas,
Namun bukan satu jiwa

Disini Sayang~

Disini sayang ~~
Duduk disampingku menatap cakrawala senja
Melihat hari ini yang kian akan usai
Melihat cahaya yang akan ditelan gelap

Disini sayang ~~
Duduk disampingku
Meski dalam hening, kau dengar itu sayang?
Hati yang tengah badai
Meneriakkan luka yang kian tidak sembuh

Rasanya seolah hatiku telah hancur berkeping-keping
Untuk sesaat aku merasa seolah mati rasa
Untuk sementara waktu aku hampir tidak bisa melewatinya

Dalam sudut pikiranku, kenapa selalu seperti ini
Dalam sudut hatiku, mengapa aku menyimpan duka sedalam ini

Disini sayang ~~
Duduk denganku
Tak inginkah kamu mendengar duka ku?
Duka yang tak bisa ku sembuhkan

Jangan disana sayang
Aku sudah tak punya sedikitpun tenaga
Ini semakin membuatku sakit saat bergerak
Disini saja

Tapi setiap menit, setiap detik terasa begitu berantakan
Lalu untuk sesaat aku merasa terpuruk dan kembali mati rasa

Bantu aku sayang
Dalam menyembuhkan luka
Dalam menghilangkan sakit
Agar tidak seperti cakrawala senja
yang kian detiknya terus termakan oleh gelap

Tetap Disini

Tetap disini
Jangan pergi, apalagi menghilang

Tetap disini
Temani, genggam erat hati ini
Jangan ada jarak

Tetap disini
Hanya kamu, bukan yang lain

Suka duka-ku yang telah kamu ketahui,
jangan beri tahu siapapun.
Jangan, karena rapuhku cukup kamu saja yang tahu

Biarkan mereka hanya mengetahui satu sisiku,
bukan yang lain
Karena aku telah percaya kamu

Karena ketika airmata telah jatuh, kamu yang menghapusnya
Karena ketika raga telah lelah, kamu yang menyemangatinya
Karena ketika beban tak kuat di pikul lagi, kamu yang membantunya

Tetap disini …
Jangan pergi, apalagi menghilang, kasih …

Hanya saja…

Kita tidak benar-benar tahu siapa yang mulai dalam hal ini
Apakah diammu atau ketidaktahuanku

Tidak ada hati yang patah
Hati yang menangis
Atau yang kecewa

Hanya saja, jangan seperti ini..
Kau buat runtuh besi keprinsipan hatiku
Kau buat jatuh airmata yang seharusnya tak perlu jatuh

Biarkan disini kita saling memahami dalam diam
Kau yang butuh waktu dan aku yang memberi waktu
Biarkan disini kita memperhatikan dalam jarak
Agar tak ada lagi kesalahpahaman yang terjadi

Kita benar-benar tidak tahu akan datangnya hal ini, kan?
Masalah sewaktu-waktu bisa datang kapan saja
Membuat diri kita lelah hanya karenanya

Hanya saja, tetap seperti yang seharusnya
Membiarkan waktu yang berusaha menyembuhkan luka dalam tiap diri kita
Tak apa hanya ada hening dalam jarak yang kita ciptakan untuk sementara
Agar sewaktu jarak dilipat menjadi dekat,
aku telah menemukan kepingan dirimu yang hilang

Jangan seperti ini,
Kau telah membuat aku menangis.
Bisa-bisa kau membuat aku memelukmu dengan erat~

Bisikan kepada Tuhan

Malam yang berselimut rindu
Insan yang berada jauh dalam genggamanku
Bagaimana kabarmu?

Helaian nafas yang menjadi untaian doa
membisikkan kepada tuhan, bahwa ada seseorang yang rindu kamu

Aku yang selalu bertanya-tanya dalam diam
Apakah hatimu masih untukku?
Beritahu..
Apakah rindumu masih menjadi milikku?
Beritahu..

Beritahu bahwa aku masih menjadi satu milikmu
tidak ada dua atau tiga dalam hati

Hingga akhirnya kembali aku bisikkan kepada tuhan
lewat angin malam yang berhembus
Bahwa ‘Aku memang tidak salah untuk mencintaimu…’